“ Ayah, kenapa aku cacat seperti
ini?, aku ingin seperti Kak Dimas,Yah,Kak Dimas bisa main-main sama
teman-temannya, jalan-jalan sama pacarnya, sekolah pakai mobil sendiri,Yah..”,
Fani bersedih mengeluarkan air mata perlahan di depan Ayahnya. “ Sudah,nak...
kamu tidur saja sana!Sudah buta banyak bicara!Masuk sana!”, bentak Ayah Fani, “
Ayah jahat!, nggak ada yang pernah peduli sama aku, aku ingin sekolah,yah!”,
keluh Fani sambil memegangi tongkatnya menuju ke kamar. Fani menangis sangat
kencang sampai terdengar oleh Kak Dimas yang baru pulang sekolah.
“Fani?,
kamu kenapa menangis?”, tanya Kak Dimas lembut, “ Gak usah peduliin aku,Kak,
pergi sana!”, “ Fan, serius, kakak bisa bantu kamu, apapun itu,kakak sayang
sama kamu, ayo ngomong,Fan, insyallah kakak nggak bakal bikin kamu
kecewa...”,rayu Kak Dimas, “ Kakak serius?”,tanya Fani meyakinkan, “iya, Fani,
cantik..”,kata Kak Dimas sambil tertawa, “ Fani ingin sembuh kayak kakak...”,
kata Fani, sejenak Kak Dimas berfikir, harus menjawab apa dia, “ Iya, kakak
janji bakal bantuin kamu,Fan, Janji!”, kata Kak Dimas sedih memikirkan adiknya
yang sengsara atas yang dia miliki.
Saat
malam hari tiba, saat selesai makan malam, “ Yah, Dimas boleh ngomong nggak?,
sebentar saja...”,kata Kak Dimas, “ ya..”, kata Ayahnya singkat. “ Aku mau
donor korneaku buat Fani, aku sudah 17tahun,Yah, mungkin sudah cukup untuk
melihat yang ada di sekitarku,orang-orang yang aku sayang, termasuk adikku Fani
yang cantik, sekarang giliran Fani yang tidak bisa melihat apa-apa,Yah, aku
ingin dia bisa melihatku, yang menyayangiku,” kata Kak Dimas sedikit
mengeluarkan air mata, “ Tapi,Nak, bagaimana?,siapa yang akan meneruskan
pekerjaan ayah?”,tanya Ayah, “ Dimas yakin, Fani bisa,yah, dia cerdas...”, “
Yasudah kalau itu yang kamu mau, Ayah akan siap kan uang untuk operasi, jika
kamu belum siap bisa ditunda,nak, tapi apakah kamu benar-benar yakin?”, “ Untuk
Fani, aku selalu siap dan benar-benar yakin, aku tidak pernah ragu untuk apa
yang aku lakukan buat Fani...”. Ayah dan Kak Dimas berpelukan sambil menangis
karena terharu.
Setelah satu minggu berlalu, operasipun siap dilakukan.
“ Fani, ayo masuk...” kata Dokter, “ Mau diapain?”, tanya
Fani, “ Mau dokter kasih coklat kok, tapi disuntik dulu ya...”. Fani pun
menurut karena ia suka sekali dengan coklat.
Satu setengah jam berlalu, operasi selesai..
“Fani,buka matanya pelan-pelan ya..”, kata dokter, “aku
dimana?”, “kamu di rumah sakit... sudah jelas melihatnya?”, “ Sudah,dok, kak
Dimas mana ?, aku mau bilang kalau aku sudah bisa melihat”, Ayahnya takut
menjawab, dengan terpaksa Ayah mengantar Fani ke tempat Kak Dimas berada. “ Ini
kak Dimas?, kak Dimas tampan sekali,yah...”, “ hhmm.. ini Fani ya?”, tanya kak
Dimas, “ Loh, kok kakak masih tanya sih...”, “Kakakmu yang mendonorkan korneanya
untukmu, Fani..”, perjelas Ayah, “ Kakak.....”, Fani menangis terharu sambil
memeluk kak Dimas erat-erat. “ Apapun yang Fani minta akan kakak lakukan...”,
kata kak Dimas sambil mencium kening adiknya tersayang itu. Ayah dan seisi
ruangan terharu mendengar kata-kata kak Dimas yang sangat setia pada adiknya.
by: Aisha Bella Ernola
salam VenzDieGo
VenzDieGo_2